![]() |
Ekonomi Indonesia selama kuartal kedua tahun ini tercatat tumbuh sebesar 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi mencapai 53,5%.
Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyampaikan komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto dan pengeluaran konsumsi pemerintah masing-masing berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebanyak 32,9% dan 9,0%.
“Sedangkan peranan ekspor dan impor masing-masing sebesar 24,3% dan 26,6%,” ujarnya hari ini, Senin(6/8/2012).
Adapun, struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada kuartal kedua tahun ini masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberi kontribusi terhadap PDB sebesar 57,5%. Selanjutnya, diikuti Pulau Sumatera 23,6%, Pulau Kalimantan 9,5%, Pulau Sulawesi 4,8%, sisanya 4,6% di pulau-pulau lain.
Pertumbuhan ekonomi 6,1 persen didukung pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,6 persen; pengeluaran konsumsi pemerintah naik 4,5 persen; pembentukan modal tetap bruto 9,2 persen. Dukungan lainnya disumbang ekspor barang dan jasa sebesar 17,4; impor barang dan jasa 16 persen.
Pertumbuhan 6,4 persen itu mencerminkan daya beli sekelompok masyarakat yang kemudian ditunjukan berapa tingkat PDB per kapita masyarakat. Angin segarnya buat pelaku ekonomi yang membidik konsumen yang berpendapatan menengah ke atas. Ini di dalami oleh orang-orang marketing, orang marketing itu akan masuk ke segmen-segmen masyarakat. Dia akan jual produknya pada kelompok masyarakat dengan pendapatan per kapita lebih dari 300 dolar AS. Kelompok masyarakat itu lumayan banyak di Indonesia, terutama di kota besar. Tidak mengherankan pertumbuhan ekonomi disumbang faktor konsumsi. Barang-barang konsumsi itu contoh elektronik, makanan, kendaraan bermotor, itu hanya menyangkut kelompok menengah ke atas.
Ada kelompok kecil, tapi punya kemampuan daya beli yang luar biasa di perkotaan. Karena daya belinya besar, dia akan punya kemampuan beli, itu yang kemudian mendorong konsumsi kita.
sebenarnya pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi kurang bagus, karena dengan tingginya pertumbuhan ekonomi menyebabkan pendapatan masyarakat naik hal ini mengakibatkan daya beli akan naik, daya beli yang naik tanpa diikuti pertumbuhan produksi barang dan jasa akan mengakibatkan naiknya harga-harga barang secara terus menerus atau kita bis sebut inflasi
Unknown

Lihat Daftar Isi !